Sabtu, 27 Desember 2025

Semakin bertambahnya usia manusia , semakin menyadari bahwa sumber kebahagiaan adalah Kebaikan yang kita lakukan....

Seiring bertambahnya usia, pandangan manusia tentang kebahagiaan perlahan berubah. Hal-hal yang dulu dianggap membahagiakan, seperti pencapaian, pengakuan, atau kemenangan atas orang lain, mulai kehilangan daya tariknya. Hidup mengajarkan bahwa kegembiraan sesaat tidak selalu meninggalkan rasa tenang. Justru dalam kesederhanaan dan ketulusan, seseorang mulai menemukan bentuk kebahagiaan yang lebih bertahan lama.


Di tahap ini, kebaikan tidak lagi dipahami sebagai kewajiban moral semata, melainkan sebagai kebutuhan batin. Berbuat baik menghadirkan kelegaan yang tidak bisa digantikan oleh kesuksesan apa pun. Membantu tanpa pamrih, mendengarkan dengan sungguh-sungguh, atau sekadar tidak melukai orang lain, memberi rasa damai yang pelan namun dalam. Dari sana, seseorang menyadari bahwa kebaikan bukan pengorbanan, melainkan jalan pulang bagi hati yang lelah.

Semakin dewasa, semakin jelas bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari apa yang kita terima, tetapi dari apa yang kita berikan. Kebaikan membuat hidup terasa lebih ringan karena tidak membebani diri dengan dendam, iri, atau kesombongan. Pada akhirnya, usia mengajarkan bahwa bahagia bukan tentang memiliki segalanya, melainkan tentang menjadi cukup. Dan kebaikan adalah bentuk paling jujur dari rasa cukup itu sendiri.....

Jangan Lupa Bahagia ......

Jumat, 26 Desember 2025

Generasi Z di Dunia Kerja , antara Loyalitas & Kompetensi

 

Pada tahun 2025, Generasi Z diprediksi akan mencakup sekitar 27% dari angkatan kerja global. Kehadiran mereka membawa pergeseran besar dalam definisi loyalitas dan standar kompetensi di lingkungan profesional.

Berikut adalah tinjauan mendalam mengenai dinamika Gen Z di dunia kerja saat ini:
1. Loyalitas: Bukan Tentang Durasi, Tapi Tentang "Growth"
Stereotipe bahwa Gen Z suka berpindah-pindah kerja (job-hopping) sering kali disalahpahami. Data menunjukkan bahwa rata-rata masa kerja mereka memang sekitar 1,1 tahun, namun motivasi di baliknya bukan sekadar ketidaksabaran.
  • Loyalitas Berbasis Nilai: Gen Z cenderung setia pada perusahaan yang menawarkan pengembangan karier internal dan kesehatan mental yang terjaga. Sekitar 81% dari mereka lebih memilih untuk naik jabatan di perusahaan yang sama daripada harus pindah, asalkan peluang tersebut tersedia secara transparan.
  • Pencarian Makna (Purpose): Bagi mereka, loyalitas adalah komitmen dua arah. Sebanyak 89% Gen Z menganggap makna pekerjaan sebagai faktor kunci kepuasan kerja. Mereka tidak ragu meninggalkan lingkungan yang dianggap "toksik" atau tidak sejalan dengan nilai-nilai sosial dan keberlanjutan.
  • Faktor Kompensasi: Di tengah tingginya biaya hidup tahun 2025, gaji tetap menjadi pemicu utama. Peningkatan gaji saat pindah kerja sering kali mencapai 10-20%, jauh lebih tinggi dibanding kenaikan tahunan di perusahaan lama yang hanya 2-5%.
2. Kompetensi: Senjata Utama Sang Digital Native
Gen Z masuk ke pasar kerja dengan keunggulan kompetitif yang berbeda dari generasi sebelumnya:
  • Fasih Teknologi dan AI: Sebagai digital native, mereka sangat adaptif terhadap alat kolaborasi digital dan kecerdasan buatan (AI). Sekitar 75% Gen Z menggunakan AI untuk mempercepat proses belajar dan meningkatkan efisiensi kerja.
  • Prioritas Soft Skills: Meskipun mahir teknologi, tantangan besar bagi Gen Z adalah soft skills komunikasi tatap muka dan adaptasi lintas generasi. Menyadari hal ini, banyak dari mereka yang aktif mengembangkan kemampuan manajemen waktu dan kepemimpinan melalui program pelatihan mandiri.
  • Pembelajar Mandiri yang Cepat: Hampir 70% Gen Z mengembangkan keterampilan baru setiap minggu, melampaui frekuensi belajar Generasi Milenial. Mereka lebih menghargai bimbingan (mentorship) daripada pengawasan ketat (micro-management).
3. Apa yang Dicari Gen Z di Tahun 2025?
Untuk mempertahankan talenta muda ini, perusahaan mulai mengadopsi pendekatan baru:
  • Fleksibilitas Kerja: Sistem kerja hibrida atau remote bukan lagi sekadar bonus, melainkan kebutuhan dasar bagi mereka demi menjaga keseimbangan hidup (work-life balance).
  • Transparansi & Otentisitas: Mereka menghargai pemimpin yang jujur dan transparan mengenai kebijakan perusahaan serta dampaknya terhadap lingkungan dan masyarakat.
  • Dukungan Kesehatan Mental: Fasilitas seperti layanan konseling atau kebijakan cuti kesehatan mental menjadi faktor penentu kuat dalam keputusan mereka untuk bertahan di sebuah organisasi.
Kesimpulan
Gen Z tidak kurang kompeten atau tidak loyal; mereka hanya memiliki standar baru dalam bekerja. Mereka adalah generasi yang pragmatis, haus akan perkembangan, dan sangat bergantung pada teknologi. Perusahaan yang mampu menyediakan ruang untuk bertumbuh dan menghargai kesejahteraan mental akan memenangkan loyalitas mereka di masa depan.
Referensi : Dari berbagai sumber

Memaknai Masa Pensiun , sebuah Tinjauan Psikologis

Bagi banyak orang, masa pensiun terdengar seperti hadiah besar setelah puluhan tahun bekerja: waktu luang, kebebasan, dan kesempatan menikmati hidup tanpa tekanan kantor.

Namun dalam praktiknya, tidak sedikit individu justru merasa cemas, kehilangan arah, bahkan terpuruk secara emosional ketika benar-benar memasuki fase ini.

Psikologi modern memandang pensiun bukan sekadar perubahan status pekerjaan, melainkan transisi identitas hidup.

Ketika seseorang terlalu lama mendefinisikan dirinya melalui jabatan, rutinitas, dan peran profesional, pensiun bisa terasa seperti kehilangan “siapa diri kita sebenarnya”.

Menurut berbagai kajian psikologi perkembangan dan psikologi positif, orang yang paling kesulitan menghadapi masa pensiun umumnya bukan kekurangan uang semata, melainkan kekurangan kualitas psikologis tertentu.

Dilansir dari Geediting pada Kamis (25/12), terdapat tujuh kualitas penting yang sering kali absen—dan membuat masa pensiun terasa berat alih-alih membebaskan.

1. Identitas Diri di Luar Pekerjaan

Salah satu penyebab utama krisis pensiun adalah identitas yang terlalu melekat pada pekerjaan.

Selama bertahun-tahun, seseorang mungkin dikenal sebagai “manajer”, “pegawai negeri”, atau “direktur”. Ketika titel itu hilang, muncul kekosongan besar dalam cara memandang diri sendiri.

Psikologi menyebut ini sebagai role identity loss. Tanpa identitas alternatif—seperti hobi, peran sosial, atau minat personal—pensiun terasa seperti kehilangan makna hidup.

Orang yang siap pensiun biasanya telah membangun jati diri yang lebih luas: sebagai pembelajar, mentor, relawan, seniman, atau sekadar individu yang menikmati hidup.

2. Fleksibilitas Mental terhadap Perubahan

Masa pensiun menuntut kemampuan beradaptasi. Rutinitas yang dulu terstruktur kini menghilang, ritme hidup berubah drastis, dan peran sosial ikut bergeser.

Individu yang kesulitan menghadapi pensiun umumnya kaku secara mental—terbiasa dengan pola tetap dan sulit menerima perubahan.

Dalam psikologi, fleksibilitas kognitif adalah kunci kesehatan mental di usia lanjut. Tanpanya, perubahan kecil saja bisa terasa mengancam dan memicu stres berkepanjangan.

3. Tujuan Hidup yang Jelas

Bekerja memberi tujuan harian: target, tenggat waktu, dan rasa kontribusi. Ketika semua itu berhenti, muncul pertanyaan eksistensial: “Sekarang saya hidup untuk apa?”

Orang yang tidak memiliki tujuan hidup di luar pekerjaan cenderung merasa kosong dan tidak berguna.

Sebaliknya, mereka yang siap secara psikologis telah menemukan makna jangka panjang, entah melalui keluarga, pengabdian sosial, spiritualitas, atau pengembangan diri.

Psikologi positif menegaskan bahwa sense of purpose berperan besar dalam kebahagiaan dan umur panjang, terutama setelah pensiun.

4. Kemandirian Emosional

Banyak orang tanpa sadar menggantungkan harga diri dan emosi pada pengakuan eksternal: pujian atasan, status jabatan, atau gaji bulanan. Saat semua itu hilang, emosi menjadi rapuh.

Kemandirian emosional—kemampuan mengatur perasaan tanpa bergantung pada validasi luar—menjadi kualitas krusial.

Tanpa ini, pensiun bisa memicu perasaan tidak dihargai, iri terhadap orang yang masih bekerja, bahkan depresi ringan hingga berat.

5. Kemampuan Menikmati Kesendirian secara Sehat

Pensiun sering kali berarti lebih banyak waktu sendiri. Anak sibuk dengan kehidupannya, pasangan mungkin masih bekerja, dan lingkaran sosial menyempit.

Orang yang kesulitan menghadapi pensiun umumnya tak nyaman dengan kesendirian. Mereka memandang sepi sebagai ancaman, bukan ruang pemulihan.

Padahal, psikologi melihat kesendirian yang sehat sebagai kesempatan refleksi, kreativitas, dan pertumbuhan batin.

Tanpa kemampuan ini, pensiunan mudah merasa terisolasi meski tidak benar-benar sendirian.

6. Rasa Kompetensi dan Keinginan Belajar

Bekerja memberi rasa mampu: kita dibutuhkan, kita ahli, kita produktif. Ketika pensiun, rasa kompetensi ini bisa menghilang jika tidak dialihkan ke bidang lain.

Orang yang sulit beradaptasi biasanya berhenti belajar dan merasa “sudah terlambat” untuk mencoba hal baru.

Sebaliknya, individu dengan growth mindset justru memandang pensiun sebagai fase eksplorasi: belajar memasak, berkebun, menulis, berdagang kecil, atau teknologi baru.

Psikologi menegaskan bahwa rasa mampu dan terus belajar menjaga harga diri dan kesehatan kognitif di usia lanjut.

7. Koneksi Sosial yang Bermakna

Terakhir, dan sering kali paling menentukan, adalah kualitas hubungan sosial. Selama bekerja, interaksi sosial terjadi secara otomatis. Setelah pensiun, relasi harus dibangun dengan sengaja.

Orang yang kekurangan jejaring sosial di luar pekerjaan cenderung merasa terasing. Psikologi sosial menunjukkan bahwa kesepian kronis memiliki dampak kesehatan yang setara dengan stres berat, bahkan merokok.

Hubungan yang bermakna—bukan sekadar banyak, tetapi hangat dan saling mendukung—menjadi penopang utama kesejahteraan emosional setelah pensiun.

Kesimpulan: Pensiun Bukan Akhir, Melainkan Ujian Kedewasaan Psikologis

Menurut psikologi, kesulitan menghadapi masa pensiun jarang disebabkan oleh satu faktor tunggal.

Ia adalah akumulasi dari identitas yang sempit, tujuan hidup yang kabur, fleksibilitas yang rendah, dan relasi yang kurang terawat.

Kabar baiknya, tujuh kualitas ini bisa dibangun sebelum dan sesudah pensiun. Pensiun bukanlah akhir dari produktivitas, melainkan undangan untuk mendefinisikan ulang makna hidup dengan cara yang lebih utuh dan manusiawi.

Pada akhirnya, mereka yang menjalani pensiun dengan damai bukanlah yang paling sibuk atau paling kaya, melainkan yang paling siap secara batin—mereka yang tahu siapa dirinya, untuk apa ia hidup, dan bagaimana menikmati waktu yang tersisa dengan penuh kesadaran.

Menata Hati di Masa Purna Bakti: Menemukan Makna Baru Setelah Pensiun
Bagi banyak orang, pensiun sering kali digambarkan sebagai "garis finish"—sebuah hadiah setelah puluhan tahun bekerja keras. Namun, saat hari itu tiba, tidak sedikit individu yang justru merasa kehilangan arah. Secara psikologis, pensiun bukan sekadar berhentinya rutinitas mencari nafkah, melainkan sebuah transisi identitas yang mendalam.
1. Tantangan Psikologis: "Siapa Saya Tanpa Pekerjaan?"
Dalam psikologi, pekerjaan sering kali menjadi sumber utama identitas diri dan keberartian sosial. Ketika jabatan dilepaskan, muncul fenomena yang disebut Roleless Role (peran tanpa peran). Seseorang mungkin merasa tidak lagi dibutuhkan atau kehilangan status sosialnya.
Tanpa persiapan mental, fase awal pensiun bisa memicu stres, kecemasan, bahkan depresi yang dikenal sebagai Post-Retirement Blues. Oleh karena itu, penting untuk memahami bahwa nilai diri Anda tidak pernah terbatas pada kartu nama atau jabatan yang Anda sandang.
2. Teori Aktivitas vs. Teori Pelepasan
Ada dua sudut pandang psikologis utama dalam melihat masa tua:
  • Teori Pelepasan (Disengagement Theory): Menyarankan bahwa wajar bagi lansia untuk menarik diri dari peran sosial agar tercipta keseimbangan baru.
  • Teori Aktivitas (Activity Theory): Berargumen bahwa kebahagiaan di masa pensiun justru dicapai dengan tetap aktif. Mengganti peran pekerjaan dengan hobi, kegiatan sosial, atau peran dalam keluarga terbukti menjaga ketajaman kognitif dan kesehatan mental.
3. Strategi Memaknai Pensiun dengan Positif
Bagaimana mengubah masa pensiun menjadi masa "keemasan" yang sesungguhnya?
  • Rekonstruksi Identitas: Mulailah melihat diri Anda sebagai pribadi yang utuh, bukan sekadar mantan pegawai. Anda sekarang memiliki kebebasan untuk mengeksplorasi sisi diri yang selama ini terabaikan.
  • Mencari Ikigai Baru: Temukan alasan untuk bangun di pagi hari. Apakah itu berkebun, menjadi sukarelawan, atau mempelajari keterampilan baru yang selama ini tertunda? Anda bisa merujuk pada Panduan Menemukan Ikigai untuk membantu proses ini.
  • Menjaga Koneksi Sosial: Salah satu pemicu penurunan mental adalah isolasi. Tetaplah terhubung dengan komunitas, baik itu komunitas hobi, keagamaan, atau reuni dengan teman lama.
  • Struktur Rutinitas Baru: Kebebasan total bisa membingungkan. Buatlah jadwal harian yang fleksibel namun tetap memberikan struktur, sehingga waktu Anda tetap terasa berharga.
4. Pensiun Bukan Berhenti, Tapi Berganti Arah
Secara psikologis, masa pensiun adalah kesempatan untuk pertumbuhan pribadi (Personal Growth). Ini adalah waktu di mana kebijaksanaan yang Anda kumpulkan selama bertahun-tahun dapat dibagikan kepada generasi muda (generativitas).
Kesimpulan
Memaknai masa pensiun berarti berdamai dengan masa lalu dan bersemangat menyambut masa depan yang berbeda. Dengan kesiapan mental yang tepat, pensiun bukanlah akhir dari produktivitas, melainkan awal dari kebebasan untuk menjadi diri sendiri seutuhnya.
Jika Anda atau orang terdekat sedang mempersiapkan masa ini, Anda dapat berkonsultasi dengan profesional melalui layanan seperti Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) untuk mendapatkan dukungan transisi karir dan masa tua.

Pensiun adalah waktu ketika Anda akhirnya berhenti bekerja untuk orang lain dan mulai bekerja untuk kebahagiaan Anda sendiri.

Referensi: Jawapos.com / Dec.26.2025 / 

Orang yang kesulitan menghadapi masa pensiun biasanya kekurangan 7 kualitas penting ini menurut psikologi

Cerita dari Irfan Ferdiansyah

Selasa, 19 Juli 2022

Belajar Investasi Saham : Arti Nilai Beta pada Sebuah Saham

 Beta (β) adalah ukuran volatilitas—atau risiko sistematis—sekuritas atau portofolio dibandingkan dengan pasar secara keseluruhan (Contohnya: IHSG). Saham dengan beta lebih tinggi dari 1,0 dapat diartikan lebih volatil dibandingkan IHSG.

Beta digunakan dalam CAPM, yang menggambarkan hubungan antara risiko sistematis dan return yang diharapkan untuk aset (biasanya saham). CAPM secara luas digunakan sebagai metode untuk menentukan harga sekuritas berisiko dan untuk menghasilkan perkiraan pengembalian aset yang diharapkan, dengan mempertimbangkan risiko aset tersebut dan biaya modal.

Kita tidak perlu membahas diturunkan dari rumus apa beta tersebut. Yang penting kita get the sense dan memahami interpretasinya secara umum.

Perhitungan beta digunakan untuk membantu investor memahami apakah suatu saham bergerak ke arah yang sama dengan pasar. Ini juga memberikan gambaran tentang bagaimana volatilitas – atau seberapa berisiko – suatu saham relatif terhadap pasar.

Nilai Beta

Nilai Beta Sama dengan 1.0
Jika suatu saham memiliki beta 1.0, ini menunjukkan bahwa aktivitas harganya berkorelasi kuat dengan pasar. Sebuah saham dengan beta 1.0 memiliki risiko sistematis. Gambaran kasarnya, jika IHSG naik 1%, maka saham tersebut naik 1% pula.

Nilai Beta Kurang dari Satu
Nilai beta yang kurang dari 1,0 berarti bahwa keamanan secara teoritis tidak terlalu volatil dibandingkan dengan pasar. Gambaran kasarnya, jika IHSG naik 1%, mgkn saham ini lebih lambat, baru naik 0.5%. Tetapi jika IHSG turun 1%, saham ini juga lebih lambat merespon, hanya -0.5%. Ini hanya perumpamaan. Contohnya saham-saham defensif yang mgkn tidak terlalu terkait revenue dengan kondisi market secara umum.

Nilai Beta Lebih Besar dari Satu
Beta yang lebih besar dari 1,0 menunjukkan bahwa harga sekuritas secara teoritis lebih fluktuatif daripada pasar. Misalnya, jika beta saham adalah 1,2, diasumsikan 20% lebih fluktuatif daripada pasar. Saham teknologi dan saham berkapitalisasi kecil cenderung memiliki beta yang lebih tinggi daripada benchmark pasar. Ini menunjukkan bahwa menambahkan saham ke portofolio akan meningkatkan risiko portofolio, tetapi juga dapat meningkatkan pengembalian yang diharapkan. Gambaran kasarnya, jika IHSG naik 1%, saham-saham dengan beta tinggi ini bisa naik jauh lebih tinggi dari pada IHSG. Namun, dalam kondisi pasar bergerak negatif, biasanya saham-saham ini jg merespon dengan turun lebih cepat.

Nilai Beta Negatif
Beberapa saham memiliki beta negatif. Beta dari -1.0 berarti bahwa saham berkorelasi terbalik dengan benchmark pasar dengan basis 1:1. Saham ini dapat dianggap sebagai kebalikan, cerminan dari tren benchmark.

Apakah gerakan sebuah saham akan selalu sama dengan beta-nya? Tentu tidak, karena ini merupakan hasil dari perhitungan statistik dalam jangka waktu yang lama. Pasar seringkali tidak terdistribusi normal. Namun, untuk yg ingin belajar mengelola portfolionya, mgkn dapat dipertimbangkan menggunakan beta dalam mengukur risiko portfolio anda. Di Indonesia bs melihat data pefindo, ataupun ada dari penyedia-penyedia data yang lain.
Sumber: Investopedia

Jumat, 01 November 2013

Cara Jokowi Membangun Kepercayaan ( Kolom Rhenald Kasali, kompas.com_Oct.28.2013)

Rhenald Kasali ( @Rhenald Kasali )

KOMPAS.com — Tak dapat dimungkiri, perubahan lebih mudah diucapkan daripada dilakukan. Dari ketika dijalankan, Anda bukan hanya berhadapan dengan kaum resisten, melainkan juga mereka yang bakal kalah pamor.
Ya, kalau Anda gigih dan berhasil menaklukkan resistensi, maka akan ada kelompok-kelompok lain yang menjadi terlihat “tidak bekerja”, “asal bunyi”, atau “provokator”. Seperti kata George Carlin, mereka menggenggam ayat yang bunyinya begini, “Jika engkau tak bisa menaklukkannya, buatlah orang lain membencinya.” Mereka berkampanye agar tidak percaya pada apa yang mereka lihat.
Jadi inti dari perubahan sebenarnya: Mendapatkan kepercayaan. Obat resistensi itu, pertama-tama, adalah kepercayaan. Jujur dan berani adalah satu hal. Tetapi, ini tidak cukup bila pemimpin gagal memberikan hope melalui kemenangan-kemenangan kecil pada tahun pertamanya. Diperlukan pendekatan khusus untuk mendapatkan kepercayaan. Sebab, provokator juga hanya "mati" di tangan mereka yang sangat dipercaya publik.
Mengubah resistensi itu sendiri ibarat membuka hati manusia yang terluka. Kita tak bisa “menjebol batin” mereka yang terluka untuk membersihkan nanah-nanahnya, kecuali mereka mengizinkannya. Nah, "minta izin membuka hati" ini ada caranya: terlalu lembut tidak tembus, kekerasan hanya membuat mereka jatuh ke tangan para penyamun.
Demikian juga dalam merespons para penyamun yang menghalangi perubahan, selalu ada psikologinya. Nan S Russel, dalam Psychology Today (2012), memberikan tipsnya: tetap respek, hindari komunikasi membalas dengan menyalahkan, sadar diri, jauhkan arogansi, jaga kehormatan dan go beyond yourself (utamakan kontribusi pada publik).

Diplomasi makan malam
Jauh sebelum Jokowi memimpin Jakarta, saya pernah diberitahu pendekatan yang digunakan masyarakat Tionghoa dalam mengatasi berbagai masalah. Semua urusan bisa diselesaikan di meja makan. Dan kalau perut sudah disentuh, hati manusia akan adem. Tetapi, di Tokyo, ternyata juga sama. Bahkan, pekerja-pekerja Jepang hingga larut malam masih menjinjing tas kerja dan jas hitamnya bersama atasan mereka di bar-bar di sepanjang daerah Ginza atau Shinjuku. Dalam ocehan yang terucap, mereka mengatakan, “Kita menanggung sama-sama.”
Saat diserang calo tanah dan warga yang tak mau pindah ke rumah susun yang telah disediakan (dari area waduk Ria-Rio), kita membaca, Jokowi ternyata juga melakukan cara yang sama. Prosesnya begitu cepat. Bahkan jauh lebih cepat dari yang ia lakukan di Solo saat memindahkan PKL dari tengah kota.
“Saat itu saya ajak PKL makan siang dan makan malam 54 kali,” ujarnya. “Setelah itu baru saya sampaikan bahwa mereka akan dipindah. Dan mereka diam semua. Saya katakan, kalau begitu setuju ya... dan mereka menjawab, 'Iya, Pak...'."
Ia memberikan refleksinya sebagai berikut:
Pertama, PKL adalah businessman, sama seperti yang lainnya. Mereka itu pasti berhitung untung ruginya.
Kedua, pada awalnya, setiap diundang makan malam ke Balaikota mereka tahu bahwa mereka akan digusur, karena itulah mereka datang dengan LSM dan advokat-advokat. "Karena itu, saya tak bicara apa-apa, saya hanya mengajak mereka makan malam meski mereka kecewa tak ada omong-omong," ujarnya.
Ketiga, mereka khawatir, di lokasi baru bisnis mereka akan rugi atau diperlakukan tidak adil.
Di Jakarta, saat menghadapi warga-warga yang tinggal di bawah waduk Ria Rio, Jokowi mengatakan, “Saya tak ingin berhadap-hadapan dengan rakyat, rakyat tak boleh ditindas.” Itu sebabnya, ia memilih melayani mereka di meja makan, dan mereka pulang dengan enteng. Jokowi benar, jika perubahan membutuhkan koalisi perubahan, maka berkoalisilah dengan rakyat.

Diplomasi Sentuhan
Blusukan adalah satu hal, tetapi di balik branding Jokowi itu ada diplomasi sentuhan yang luput dari perhatian para elite. Jangan lupa setelah Gen C (connected generation), kita tengah menghadapi Gen T (touch generation).
Bila mesin saja baru terlihat smart kalau disentuh, apalagi hati manusia. Rakyat yang selalu menjadi korban dalam perubahan, merindukan pemimpin-pemimpin yang tak berjarak, yang bisa mereka sentuh. Saya ingin menceritakan kejadian ini.
Suatu ketika Fadel Muhammad bercerita saat ia menemani kandidat cagub DKI dari Partai Golkar yang datang ke sebuah masjid di daerah Kwitang dengan kawalan voorijder. Pedagang di jalan harus minggir, dan cagub tersebut bertemu Habib sebentar, lalu pergi. Setelah itu datanglah cagub incumbent. Kali ini bukan hanya voorijder, melainkan juga camat, lurah, dan hansip sehingga semua PKL tak bisa berjualan. Jalan raya tiba-tiba berubah menjadi lengang dan benar-benar bersih.
Lantas bagaimana saat Jokowi datang? Ia datang tanpa pengawal, menyalami pedagang dan peziarah di sepanjang jalan sehingga agak lama baru sampai di pelataran masjid. Peziarah terkesima karena Jokowi sama seperti mereka, berpakaian seperti rakyat biasa, tak berjarak. Pemimpin yang tak berjarak menyentuh tangan dan pundak rakyatnya, sedangkan pemimpin yang berjarak justru menghindarinya. Bagi mereka, blusukan hanyalah pencitraan, bukan sentuhan hati. Padahal, di situ ada pertautan kepercayaan.
Jadi, kepercayaanlah dasar dari setiap karya perubahan. Dan, pemimpin yang pandai akan memisahkan ilalang dari padi-padi yang harus dipelihara agar menghasilkan buah. Inilah tugas penting para pembuat perubahan di tengah-tengah low trust atau bahkan a distrust society.
Maka, daripada menjegal Jokowi, mengapa tidak bergabung saja dan salami dia sebagai role model. Kalau Anda cinta perubahan, orang-orang seperti ini justru harus diberi apresiasi. Seperti kata Jim Henson, "If you can not beat them, joint them."  

Dikutip dari Kolom Rhenald Kasali, kompas.com edisi Oct.28.2013