Kamis, 31 Mei 2012

Kepemimpinan ( Sebuah Konsep Teori )


      Konsep Kepemimpinan


Moeljono (2003) menulis tentang ajaran Ki Hajar Dewantara yang merupakan sebuah konsep guru kemudian ditransformasikan secara luas ke konsep kepemimpinan. Konsepnya yaitu ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.
Pertama, ing ngarsa sung tuladha. Ngarsa artinya di depan sedangkan tuladha maknanya contoh. Makna dari ajaran ini adalah bahwa sebagai pemimpin dimana pun seyogianya memberi contoh yang baik.
Kedua, ing madya mangun karsa. Madya artinya tengah dan mangun artinya membentuk sesuai keperluan sedangkan karsa artinya kehendak. Sebagai pemimpin jika ingin berhasil dianjurkan untuk dapat membentuk, memperhatikan, memelihara, dan menjaga kehendak dan keperluan atasan serta bawahan secara seimbang.
Ketiga, tut wuri handayani. Tut wuri artinya dibelakang sedangkan handayani artinya memberi kekuatan. Sebagai pemimpin kita harus mampu mengasuh bawahan dengan baik, bukan memanjakan tetapi justru memberikan arahan dan rasa aman.

Terori Kepemimpinan 

1. Teori Sifat 

Pada mulanya, timbul suatu pemikiran bahwa pemimpin itu dilahirkan, pemimpin bukan dibuat. Pemikiran ini dinamakan pemikiran “hereditary” (turun-temurun). Pada masa berikutnya, timbul suatu teori baru yang dinamakan “physical characteristic theory”. Dikemukakan adanya 76 tipe struktur badan yang berhubungan dengan perbedaan temperamen dan kepribadian. (Sutarto, 1989)

The trait approach to leadership is the evaluation and selection of leaders on the basis of their physical, mental, social, and psychological characteristics. (Mondy, 1991)

Teori sifat kepemimpinan adalah evaluasi dan seleksi dari pemimpin berdasarkan ciri - ciri fisik, mental, sosial, dan karakter psikologi mereka.

Teori sifat kepemimpinan membedakan para pemimpin dari mereka yang bukan pemimpin dengan cara berfokus pada berbagai sifat dan karakteristik pribadi, meliputi ciri – ciri intelektual, emosional, fisik, dan ciri – ciri pribadi lainnya.

2.      Teori Perilaku
Teori perilaku berlandaskan pemikiran bahwa keberhasilan atau kegagalan pemimpin ditentukan oleh gaya bersikap dan bertindak pemimpin yang bersangkutan (Sutarto, 1989). Teori perilaku pribadi mengkaji perilaku dan dampaknya atas prestasi dan kepuasan para pengikut (Robbins, 2008).

a.    Penelitian Universitas Michigan : Orientasi Pekerjaan dan Orientasi Karyawan
Hasil penelitian menunjukkan ada dua gaya kepemimpinan yang berbeda, yaitu berorientasi pada pekerjaan (job centered) dan berorientasi pada karyawan (employee centered).
Pemimpin yang berorientasi pekerjaan, mempraktekkan penyeliaan ketat sehingga bawahan melaksanakan tugas mereka dengan menggunakan prosedur yang ditentukan dengan jelas. Jenis pemimpin ini mengandalkan kepemimpinan mereka atas kekuasaan paksaan, imbalan, dan legitimasi untuk mempengaruhi perilaku dan prestasi pengikut. Perhatian atas karyawan dipandang sebagai hal penting, tetapi merupakan barang mewah yang tidak dapat diberikan pemimpin.
Pemimpin yang berorientasi karyawan, yakin tentang perlunya pendelegasian pengambilan keputusan dan upaya membantu karyawan dalam memenuhi kebutuhan mereka dengan menciptakan suatu lingkungan kerja yang mendorong. Pemimpin yang berorientasi karyawan menaruh perhatian akan kemajuan pribadi, pertumbuhan, dan prestasi karyawan. Tindakan ini diasumsikan kondusif untuk menimbulkan dukungan bagi pembentukan dan pengembangan kelompok.


b.    Penelitian Universitas Negeri Ohio : Pemrakarsaan Struktur dan Pertimbangan
Penelitian yang diketuai Fleishman ini menghasilkan teori dua faktor tentang kepemimpinan. Penelitian tersebut memisahkan dua faktor kepemimpinan, yang diacu sebagai pemrakarsa struktur dan pertimbangan.
Pemrakarsa struktur merupakan perilaku dimana pemimpin yang mengorganisasi dan menetapkan hubungan dalam kelompok tersebut, cenderung membentuk pola dan saluran komunikasi yang ditetapkan dengan baik, dan menunjukkan cara – cara penyelesaian pekerjaan. Sedangkan pertimbangan menyangkut perilaku yang menunjukkan persahabatan, kepercayaan timbal-balik, respek, kehangatan, dan hubungan antara pemimpin dan pengikut.
Menurut teori ini, variabel yang mempengaruhi hubungan perilaku kepemimpinan dan keefektifan organisasi antara lain pengalaman karyawan, kewenangan, pengetahuan tentang pekerjaan, harapan atas perilaku pemimpin, pengaruh pemimpin ke atas tingkat otonomi, dan desakan waktu (Gibson, 1985).
Teori ini telah dikritik karena kesederhanaannya (misalnya hanya dua dimensi kepemimpinan), kurang kemampuan menyamaratakan, dan mengandalkan jawaban kuesioner untuk mengukur keefektifan kepemimpinan (Robbins, 2008).
Pendekatan keprilakuan pribadi ini telah dipelajari dalam lingkungan keorganisasian yang berbeda. Namun, kedua teori dalam pendekatan keprilakuan pribadi ini belum menunjukkan kaitan antara kepemimpinan dan indikator prestasi yang penting, seperti produksi, efisiensi, dan kepuasan secara meyakinkan (Ivancevich, 2007).
3.    Teori Kontingensi
Tiap – tiap organisasi memiliki ciri khusus, tiap organisasi adalah unik. Bahkan organisasi yang sejenis pun akan menghadapi masalah yang berbeda, lingkungan yang berbeda, pejabat dengan watak serta perilaku yang berbeda. Oleh karena itu, tidak mungkin dipimpin dengan perilaku tunggal untuk segala situasi. Situasi yang berbeda harus dihadapi dengan perilaku kepemimpinan yang berbeda pula. Oleh karena itu, muncul pendekatan yang disebut “contingency approach”, dinamakan pula “situational approach” (pendekatan situasional) (Sutarto, 1989).
Oleh Fred Luthans, teori kontingensi dirumuskan sebagai hubungan “jika . . ., maka . . .”. “Jika” merupakan variabel lingkungan dan “maka” merupakan variabel manajemen.

a.    Model kepemimpinan kontingensi dari Fiedler
Fiedler menyatakan bahwa tidak ada seseorang yang dapat menjadi pemimpin yang berhasil dengan hanya menerapkan satu macam gaya untuk segala situasi. Pemimpin itu akan berhasil menjalankan kepemimpinannya apabila menerapkan gaya kepemimpinan yang berbeda untuk menghadapi situasi yang berbeda (Sutarto, 1989). Fiedler tidak optimis bahwa pemimpin bisa dilatih dengan sukses untuk mengubah gaya kepemimpinan mereka, sehingga menurut dia, mengubah situasi merupakan alternatif yang lebih baik (Ivancevich, 2007).

b.    Model kepemimpinan “path-goal” (Evans dan House)
Pendekatan “path-goal” berdasarkan pada model pengharapan yang menyatakan bahwa motivasi individu berdasarkan pada pengharapannya atas imbalan yang menarik. Pendekatan ini menitikberatkan pada pemimpin sebagai sumber imbalan. Pendekatan ini mencoba untuk meramalkan bagaimana perbedaan tipe imbalan dan perbedaan gaya kepemimpinan mempengaruhi motivasi, prestasi, dan kepuasan bawahan. Oleh Stoner, pendekatan “path-goal” digambarkan sebagai pemimpin menjelaskan jalan untuk mencapai tujuan (imbalan) (Sutarto, 1989).

c.    Model kepemimpinan situasional (Paul Hersey dan Kenneth H.Blanchard)

Hersey and Blanchard’s theory is based on the notion that the most effective leadership style varies according to the level of readiness of the followers and the demands of the situation (Mondy, 1991).

Teori Hersey dan Blanchard didasarkan pada gagasan bahwa  kepemimpinan yang efektif bervariasi menurut tingkat kesiapan bawahan dan tuntutan situasi.
Berdasarkan pendekatan situasional, tiada satu jalan terbaik untuk mempengaruhi orang atau tiada satu jalan terbaik untuk memimpin. Pendekatan situasi didasarkan atas hubungan antara perilaku tugas, perilaku hubungan, serta tingkat kematangan bawahan. (Sutarto, 1989)
Dari berbagai teori diatas, Carl R. Anderson (1988) di dalam buku Management : Skills, Functions, and Organizations Performance menyebutkan bahwa teori situasional merupakan teori yang lebih baik.

“The situational approach is both the most complicated and most useful approach to understanding what leaders do. This is consistent with the complexity of most leadership positions. All the theories emphasize that no one “best” approach to leadership exists, it all depends on the employees managed, the job, and the leader. Each of the theories adds insights to what elements of the situation leaders should consider. Regardless, situational theory is widely accepted by both practitioners and researches. It “makes sense” that leaders must change how they behave from situation to situation.”

Pendekatan situasional adalah pendekatan yang paling rumit dan juga paling berguna untuk mengerti apa yang seharusnya dilakukan pemimpin. Hal ini sesuai dengan kompleksitas dari posisi pemimpin tersebut. Semua teori ini menegaskan bahwa tidak ada satupun pendekatan atau teori kepemimpinan yang sesuai, semuanya tergantung pada pengaturan bawahan, pekerjaan, dan pemimpin. Masing – masing teori memberikan wawasan tentang elemen apa dalam sebuah situasi yang harus dipertimbangkan oleh pemimpin. Bagaimanapun, teori situasional lebih banyak diterima. Hal ini menunjukkan bahwa pemimpin harus mengubah perilakunya dari situasi yang satu ke situasi yang lain.

 Lets Go....!!!!





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar