Dear all;
Barusan saya dapat email yang cukup menginspirasi tentang Kepemimpinan. Menarik dan mengena. Kepeminpinan adalah bersumber dari Hati Nurani ....
Kepemimpinan Itu.....
Kepemimpinan itu bukan sekedar kekuasaan,
Kepemimpinan itu bukan sekedar jabatan,
Kepemimpinan itu adalah tanggungjawab (kepada sesama dan Tuhan)
Kepemimpinan itu adalah tindakan dan keteladanan,
Kepemimpinan itu rendah hati dan menginspirasi
Kepemimpinan itu empati penuh kepeduliaan,
Kepemimpinan itu menyentuh hati dan memotivasi,
Kepemimpinan itu adil dan menjalankan amanah,
Kepemimpinan itu jujur dan memiliki integritas pribadi,
Kepemimpinan itu memberi dan melayani dengan hati,
Kepemimpinan itu mengutamakan kerjasama (sinergisme),
Kepemimpinan itu cerdas memiliki kreativitas,
Kepemimpinan itu visioner dan berpikiran maju,
Kepemimpinan itu ..................................
Dengarkan suara hati nuranimu....
Mintalah fatwa pada suara hati nuranimu...
dalam setiap mengambil keputusan-keputusan penting,
Karena Anda, Saya dan kita semua adalah pemimpin.
Mari kita jadikan diri kita adalah pemimpin yang bersumber dari Hati Nurani .....
Let's Go.....
Selasa, 18 September 2012
Sabtu, 15 September 2012
Catatan Malam Minggu : Memahami dan Menerapkan Kecerdasan Kepemimpinan
Dear all,
Kemajuan suatu organisasi, sekecil atau sebesar apapun ( bahkan negara sekalipun ) sangat tergantung pada kinerja pemimpinnya. Semakin pintar sang pemimpin, maka akan cemerlang juga eksistensi organisasi itu.
Sebenarnya asal-usul perlua adanya seorang pemimpin tentu sangat pelik untuk diperdebatkan. Pemimpin (leader) dan teori kepemimpinan (leadership) sebenarnya meminjam istilah biologi, yaitu head ( kepala ). Manusia tak akan bisa hidup tanpa kepala. Karena di kepala semua sistem dan struktur hidup manusia terdapat. Mulai dari sistem otak, mata, telinga, mulut ada semua. Itulah mengapa perlunnya ada seorang pemimpin atau pimpina.
Mengapa harus ada pemimpin ?
Namanya pemimpin, ia menjadi garda depan sebuah perjalanan dan kehidupan bagi sistem-sistem lain yang sangat terkait satu sama lain. Bagaimana tubuh ini bisa berjalan ke utara bila jika mata ( bagian dari kepala) tidak memandunya? Bagaimana tubuh ini bisa bertindak jika syaraf otak ( bagian dari isi kepala ) tidak memberikan reaksi???
Sedangkan relasi yang selama ini terjalin antara seorang pemimpin dengan bawahannya sebenarnya ada tiga macam :
1. Tujuan
Baik pimpinan, maupun bawahan atau karyawan adalah tipe-tipe kelompok masyarakat yang sama-sama ingin mewujudkan suatu tujuan. Jadi idealnya yang menempati posisi prioritas bukanlah pimpinan, akan tetapi tujuan atau target dari suatu organisasi.
2. Pimpinan
3. Bawahan
Pada poin 2 dan 3 dapat dijelaskan sebagi berikut:
Pada prakteknya, seorang pimpinan dalam rangka mencapai tujuan ia merekrut bawahan, karyawan atau pegawai yang bekerja untuk dan demi tujuan tersebut. Hubungan yang terjalin di dalamnya tentu bersikap top down. Yang penting sebenarnya bagaimana menjadi pemimpin yang efektif mengatur relasi dan bisnisnya terkait bagaimana menjalin hubungan dengan para bawahannya. Pola-pola delegatif, bottom up, instropektif dan dialogis, ternyata sangat mendukung suasana dan kondisi perusahaan atau institusi yang familiar, tidak angker dan kaku serta penuh kesadaran dalam pelaksanaan tugas.
4 Prinsip pola seorang pemimpin dalam memimpin :
1. Pola pemberitahuan atau instruksioanis.
Pola ini para atasan / pimpinan merasa kurang sreg jika dia sendiri tidak secara langsung mengamati hasil pekerjaan para bawahannya.
2. Pola Melatih
Pimpinan secara langsung memberi contoh dan praktek melaksanakan suatu job atau pekerjaan.
3. Pola Mendukung
Pimpinan memberi support penih atau pujian atas apa yang dilakukan para bawahannya, jika sesuai dengan instruksinya.
4. Pola Delegasi.
Pemimpin memberikan wewenang suatu tugas kepada bawahannya secara penuh.
Sebenarnya ada 4 hal sederhana agar kita menjadi seoarng pemimpin yang berhasil :
1. Ciptakan dinamika dalam kemampuan anda denga terus - menerus memperbaruinya
2. Terapkan dan wujudkan segala potensi diri anda
3. Bentuklah tim kerja kreatif, cerdas dan bermental baja
4. Ciptakan inspirasi, motivasi dan rangsangan yang memicu kreativitas.
Untuk dapat melaksanakan 4 hal sederhana diatas diperlukan yang namanya kecerdasan kepemimpinan ( leadership intelligence) bagi sebuah perusahaan atau organisasi appun.
Selamat mencoba !!!
Mendelegasikan Pekerjaan
Saya pikir sangatlah ironis jika begitu banyak pemimpin yang stres karena gaya berpikir mereka, yaitu mereka tidak mau melakukan delegasi dari tugas-tugasnya.
Ada beberapa alasan, mengapa seorang pemimpin tidak mau mendegasikan pekerjaannya ke staffnya:
1. Merasa tidak mempunya waktu -> alasan klasik
2. Yakin bahwa hanya dirinyalah yang lebih kompeten
3. Kurang yakin terhadap kemampuan bawahan
4. Khawatir jika mereka mendelegasikan terlalu jauh pekerjaannya, mereka tidak memiliki pekerjaan yang bisa dipertahankan
Sekalipun begitu, para bawahan kita terkadang berteriak minta job yang lebih menantang dkarena pekerjaan yang lebih menantang dan lebih menggairahkan agar mereka bisa merasa lebih bertanggung jawab, lebih berprestasi dan lebih maju.
Pada saat pemimpin mengetahui akan potensi dan keinginan bawahannya untuk maju dan berkembang, maka sudah selayaknya untuk melakukan pendelegasian. Pendelegasian yang efektif adalah proses yang harus direncanakan dan bukan hanya sekedar melimpahkan tanggungjawab.
Bila pemimpin mampu mendelegasikan pekerjaannya maka ada dua keuntungan yaitu pemberdayaan bawahan dan bisa mengurangi stres karena beban tugas.
Mari kita belajar mendelegasikan tugas kita kepada mitra kerja kita.
Renungan Sabtu malam Minggu, Sept.15.2012
Blok A9 dengan ditemani senagkir teh panas.
Kamis, 31 Mei 2012
Kepemimpinan ( Sifat, Gaya, dan Tipe )
Sifat Kepemimpinan
Sifat pemimpin sangat tepat
digunakan sebagai kriteria untuk mengukur kualitas kepemimpinannya. Jadi sukses
atau gagalnya kepemimpinan dapat dilihat dari sifat pemimpinnya. Semakin baik
sifat pemimpinnya maka semakin baik hasil kepemimpinan yang didapat, begitu
juga sebaliknya. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, sifat adalah ciri khas
yang ada pada sesuatu. Maka untuk mewujudkan kesuksesan dalam kepemimpinan
diperlukan suatu sifat-sifat kepemimpinan yang baik secara universal.
a. Kecerdasan
(Intellegence)
Stogdill menemukan suatu kecenderungan umum
yang menunjukkan bahwa pemimpin lebih cerdas dari pengikutnya. Meliputi
pertimbangan, ketegasan, pengetahuan, dan kefasihan berbicara.
b. Kepribadian
(Personality)
Sifat kepribadian seperti keuletan,
orisinalitas, integritas pribadi, kepercayaan diri, kemampuan adaptasi,
kewaspadaan, kreativitas, keseimbangan dan pengendalian emosional, serta
mandiri berkaitan dengan kepemimpinan yang efektif.
c. Karakteristik
Fisik (Physical Characteristics)
Studi tentang hubungan antara kepemimpinan
yang efektif dengan karakteristik fisik seperti umur, tinggi, berat badan, dan
penampilan mengungkapkan hasil yang bertentangan. Tubuh yang terlalu tinggi dan
terlalu berat dibanding rata – rata kelompok tentunya tidak menguntungkan untuk
mencapai posisi kepemimpinan. Akan tetapi, banyak juga organisasi yang
membutuhkan orang dengan fisik yang besar untuk menjamin kepatuhan pengikutnya.
d. Kemampuan
Supervisi
Kemampuan supervisi didefinisikan sebagai
pendayagunaan segala bentuk praktek supervisi secara efektif ditunjukkan oleh
persyaratan situasi tertentu. Meliputi, kemampuan memperoleh kerja sama, kerja
sama, popularitas dan prestige, kemampuan
bergaul, partisipasi sosial, dan bijaksana (Gibson : 1985).
Kelemahan dari
pendekatan menurut sifat ini adalah tidak menyediakan gambaran tentang apa yang
dilakukan pemimpin yang efektif pada pekerjaan yang bersangkutan.
Gaya Kepemimpinan
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, gaya adalah
sikap; gerakan; tingkah laku. Menurut Mondy Mondy (1991) dalam buku “Management Concepts, Practices, and Skills”,
terdapat 4 dasar gaya kepemimpinan seorang pemimpin dalam memimpin yaitu
otokratis, parsitipatif, demokratis dan laissez-faire.
1.
Gaya Otokratis
“..
is a leader who tells subordinates what to do and expects to be obeyed without
question.”
Pemimpin
dengan gaya kepemimpinan seperti ini memusatkan segala keputusan dan kebijakan
diambil dari dirinya secara penuh. Semua bawahan harus mematuhi dan menerima
perintah pemimpin tanpa banyak bertanya.
2.
Gaya Partisipatif
“..
is a leader who involves subordinates in decision making but may retain the
final authority.”
Dalam
mengambil keputusan, pemimpin juga membuka kesempatan bagi anak buahnya untuk
menentukan keputusan terakhir.
3.
Gaya Demokratis
“..
is a person who tries to do what the majority of subordinates desire.”
Dalam
kepemimpinan ini, pemimpin yang memberikan wewenang secara luas kepada para
bawahan dan selalu mengutamakan kerja tim dalam menyelesaikan suatu masalah.
Terjadi banyak komunikasi dua arah antara pemimpin dan bawahan. Selain itu,
bawahan juga dapat bekerja dengan mudah karena pemimpin menginformasikan dengan
jelas tugas-tugas bawahannya.
4.
Gaya Laissez-Faire
“..
is a leader who is uninvolved in the work of the unit.”
Gaya
kepemimpinan ini merupakan kebalikan dari gaya kepemimpinan otokratis. Disini,
pemimpin hanya terlibat dalam kuantitas kecil, jadi para bawahanlah yang aktif
menentukan tujuan dan penyelesaian masalah. Gaya kepemimpinan ini merupakan
gaya yang memberikan kebebasan berekspresi paling besar bagi bawahan.
Setiap pemimpin mempunyai gaya kepemimpinan yang
berbeda-beda. Perbedaan gaya kepemimpinan tersebut tidak semata-mata karena
watak dari pemimpin. Gaya kepemimpinan merupakan wujud dari usaha pemimpin
untuk menghadapi anak buahnya yang sangat bervariasi pemikiran dan tingkah
lakunya.
Mondy (1991) juga menjelaskan bahwa ada pula empat
macam pengelompokan gaya kepemimpinan yang dapat diikuti. Gaya kepemimpinan
tersebut adalah S1-Telling, S2-Selling, S3-Participating dan S4-Delegating.
Masing-masing dari gaya kepemimpinan tersebut memiliki kelemahan dan kelebihan
yang juga merupakan pembeda dari setiap gaya kepemimpinan.
1.
S1
(Telling)
Gaya kepemimpinan ini sangat senang
mengambil keputusan sendiri tanpa melibatkan atau bertukar pikiran dengan anak
buahnya. Pemimpin bergaya ini selalu memberikan instruksi yang jelas lalu
mengawasi secara ketat anak buahnya serta selalu memberikan penilaian tersendiri
pada mereka. Jadi pemimpin ini selalu ingin tahu apakah instruksinya sudah
dilaksanakan dengan baik atau tidak. Ciri-ciri khusus dari gaya kepemimpinan
ini yaitu:
With the S1 (telling) high-task,
low-relationship leadership style, the leader uses one-way communication,
defining the objectives and roles of employees and telling employees what, how,
when and where to do the work. This style is appropriate for managers dealing
with subordinates who lack-relevant readiness¾for
ex-sample, those who are relatively new an inexperienced (Mondy,
1991).
Maksud dari pernyataan di atas yaitu
gaya kepemimpinan ini menggunakan komunikasi satu arah, jarang terjadi hubungan
yang erat antara pemimpin dan anak buahnya serta hanya memberikan tugas-tugas
kepada anak buahnya. Pemimpin seperti ini selalu memperlihatkan apa yang dia
inginkan dengan jelas. Hal ini tentunya sangat menguntungkan anak buahnya
karena mereka akan tahu apa, bagaimana, kapan dan dimana tugas mereka harus
dikerjakan. Namun hal ini juga mengakibatkan rasa ketergantungan yang tinggi
anak buah terhadap pemimpinnya. Karena pimpinan mendominasi semua persoalan
maka ide dan gagasan anak buah tidak berkembang karena komunikasi satu arah
yang dilakukan pemimpinnya. Gaya kepemimpinan seperti ini sangat cocok untuk untuk
menghadapi anak buah yang baru bergabung dan memiliki pengalaman serta
kemampuan yang terbatas.
2.
S2
(Selling)
Pemimpin bergaya seperti ini melibatkan
anak buahnya dalam pengambilan keputusan. Pemimpin tidak hanya membagi
persoalannya dengan anak buahnya namun ia juga bersedia mendengarkan apa yang
menjadi persoalan anak buahnya. Gaya kepemimpinan ini juga masih menonjolkan
kejelasan pemimpin dalam memberikan instruksi meskipun tidak sekaku gaya
kepemimpinan S1-telling.
Kelebihan dari gaya kepemimpinan ini
adalah mengurangi ketergantungan anak buah terhadap pemimpinnya. Keputusan yang
diambil pemimpin akan lebih mewakili tim daripada emosi pribadi pemimpin. Namun
efisiensi yang tinggi dalam setiap pengambilan keputusan sulit untuk tercapai.
Hal ini karena dibutuhkan waktu yang lebih untuk pembicaraan suatu masalah
antara pemimpin dan anak buahnya. Gaya kepemimpinan ini sangat cocok untuk
memimpin orang yang respek terhadap kemampuan maupun posisi pemimpin dan
memiliki motivasi yang tinggi untuk bekerja sesuai harapan pemimpin namun
dengan kemampuan yang terbatas.
3.
S3
(Participating)
Salah satu ciri dari gaya kepemimpinan
ini adalah kesediaan pemimpin untuk memberikan tanggung jawab dan kesempatan
lebih bagi anak buahnya. Selain itu pemimpin bergaya seperti ini juga
memberikan dukungan penuh mengenai apa yang mereka perlukan. Situasi seperti
ini tentunya akan mendorong anak buah untuk berkembang dan memacu kreativitas.
As employees exhibit an increase in
task-relevant readiness¾as
they become more experienced and skilled, as well as more achievement-motivated
and more willing to assume responsibility¾the
leader should reduce the amount of task be-havior but continue the high level
of emotional support and consideration. Continuing a high level of relationship behavior is the manager’s way of
reinforcing the em-ployees’ responsible performance. Thus, the S3
(participating) high-relationship and low-task behavior becomes the appropriate
leadership style (Mondy, 1991).
Maksudnya, ketika anak buah sudah
memiliki kemampuan dan pengalaman yang lebih maka pemimpin bisa mengurangi
instruksi untuk melaksanakan tugas-tugas. Demikian juga terhadap anak buah yang
bermotivasi tinggi serta sangat responsif terhadap pemimpin maka tidak perlu
memberikan instruksi yang berlebihan. Namun dukungan emosional dari pemimpin
harus tetap dijalankan agar tercipta suasana yang menyenangkan dalam bekerja.
Gaya kepemiimpinan ini memiliki kelemahan yaitu diperlukan waktu yang lebih
lama dalam setiap pengambilan keputusan. Jadi pemimpin harus selalu
mennyediakan wakttu yang lebih banyak untuk berdiskusi dengan anak buahnya.
4.
S4
(Delegating)
The S4 (delegating)
low-relationship, low-task leadership style goes with the highest level of
follower readiness. In this stage, the employees are at a high level of
task-relevant readiness. They are skilled and experienced, possess of a high
level of achievement motivation, and are capable of exercising self-control. At
this point, they no longer need or expect a high level of task behavior from
their leader (Mondy,1991).
Maksudnya
adalah dalam gaya kepemimpinan ini pemimpin tidak perlu lagi memberikan
instruksi maupun dukungan emosional yang berlebihan kepada anak buahnya. Hal
ini dikarenakan mereka sangat responsif dan tanggung jawab tinggi terhadap tugas
mereka sendiri. Selain itu mereka juga sudah sangat berpengalaman dan memiliki
kemampuan yang sangat bagus. Sehingga mereka tidak membutuhkan perintah yang
diperjelas dari pemimpin mereka karena mereka bisa mengontrol diri mereka
sendiri.
Kelebihan dari gaya kepemimpinan ini
adalah anak buah sangat kreatif dan berkembang. Mereka merasa memiliki semua
tugas yang tentu saja akan meringankan beban pemimpin. Selain itu pemimpin juga
lebih mempunyai banyak waktu untuk memikirkan hal-hal lain yang memerlukan perhatian
lebih besar. Sedangkan kekurangan dari gaya kepemimpinan ini adalah saat anak
buah membutuhkan keterlibatan pemimpin untuk menyelesaikan suatu masalah, maka
ada kecenderungan pemimpin akan mengembalikan persoalan tersebut pada anak
buahnya meskipun sebenarnya itu tugas pemimpin. Jadi sering terjadi kerancuan
dalam pembagian tugas.
Tipe Kepemimpinan
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, tipe adalah
model; corak; contoh. Tipe kepemimpinan dalam buku “Pemimpin dan Kepemimpinan:
Apakah Pemimpin Abnormal itu?”, Kartono (1994)
menyebutkan bahwa ada delapan tipe, yaitu:
1.
Tipe kharismatis
2.
Tipe paternalistis
3.
Tipe militeristis
4.
Tipe otokratis
5.
Tipe laisser faire
6.
Tipe populistis
7.
Tipe administrative
8.
Tipe demokratis.
1.
Tipe
Kharismatis
Tipe pemimpin ini memiliki totalitas kepribadian
yang memancarkan pengaruh dan daya tarik yang luar biasa. Ia mempunyai keahlian
untuk untuk mempengaruhi orang lain. Pemimpin bertipe seperti ini banyak
memberi inspirasi, keberanian dan berkeyakinan yang teguh. Keadaan tersebut
membuatnya mempunyai banyak pengikut dan pengawal-pengawal yang bisa dipercaya.
Tokoh-tokoh besar yang memiliki tipe kepemimpinan semacam ini antara lain
Jengis Khan, Hitler, Gandhi, John F. Kennedy, Soekarno dan lain-lain.
2.
Tipe
Paternalistis
Yaitu tipe kepemimpinan yang lebih seperti sifat
bapak kepada anaknya. Pemimpin seperti ini menganggap semua anak buahnya belum
dewasa sehingga tidak memperbolehkan anak buahnya mengambil keputusan sendiri.
Imajinasi dan kreativitas anak buahnya juga tidak berkembang dengan baik.
Sikapnya yang melindungi anak buahnya jugaa sangat berlebihan. Selain itu
pemimpin bertipe ini selalu bersikap seolah-olah dialah yang maha tahu dan maha
benar.
3.
Tipe
Militeristis
Tipe kepemimpinan ini bersifat seolah-olah merupakan
kepemimpinan dalam organisasi militer. Pemimpin bertipe ini sangat kaku dan
kurang bijaksana. Ia memenghendaki kepatuhan dan disiplin mutlak dari anak
buahnya. Saran dan kritikan dari anak buah tidah bisa ia terima. Jadi
komunikasi hanya berlangsung satu arah saja.
4.
Tipe
Otokratis
Otokrat berasal dari perkataan autos = sendiri, kratos =
kekuasaan, kekuatan. Jadi otokrat berarti: kekuasaan
absolut. Tipe ini mendasarkan pada kekuasaan dan paksaan yang mutlak harus
dipenuhi. Anak buah tidak mendapat informasi yang detail menenai tugas maupun
tindakan yang harus dilakukan. Ia selalu menyisihakan diri dari anak buahnya
karena ia merasa derajatnya lebih tinggi. Jadi pemimpin bertipe ini ingin
berkuasa secara absolute, tunggal dan merajai keadaan.
5.
Tipe
Laisser Faire
Pemimpin bertipe ini hanyalah sebagai simbol. Ia
tidak punya kemampuan teknis untuk memimpin. Pemimpin ini tidak bisa
menciptakan suasana kerja yang kondusif. Ia juga tidak bisa mengontrol kerja
anak buahnya. Dia membiarkan orang yang dipimpinnya bekerja semau hatinya. Akibatnya
pemimpin ini tidak mempunyai wibawa di mata anak buahnya.
6.
Tipe
Populistis
Tipe kepemimpinan seperti ini berusaha untuk
menghindari pemaksaan maupun penindasan. Kepemimpinan ini berpegang teguh pada
nilai-nilai masyarakat yang tradisional. Kepemimpinan ini menuntut kemandirian
dan tidak bergantung pada pihak luar. Dan akhirnya kepemimpinan tipe ini dapat
membangun solidaritas yang erat antar anggota kelompok.
7.
Tipe
Administratif
Kepemimpinan yang bertipe semacam ini mampu
menyelenggarakan tugas-tugas administrasi secara efektif. Pemimpin bertipe ini
merupakan teknokrat maupun administrator yang mampu menggerakkan dinamika
modernisasi dan pembangunan. Selanjutnya dari tipe kepemimpinan ini akan ada
perkembangan teknis dan perkembangan sosial di lingkungan kerja.
8.
Tipe
Demokratis
Tipe kepemimpinan ini berorientasi pada manusia.
Pada kepemimpinan ini terdapat koordinasi pekerjaan pada semua anak buah. Tipe
ini lebih menekankan pada rasa tanggung jawab terhadap diri sendiri dan
kerjasama yang baik. Sebenarnya kekuatan kepemimpinan ini bukan pada
pemimpinnya tetapi pada partisipasi aktif setiap sumber daya manusia, potensi
dari setiap individu sangat dihargai. Pemimpin yang bertipe kepemimpinan
seperti ini selalu mau mendengarkkan kritik dan usulan anak buahnya. Pemimpin
ini juga pandai memaksimalkan pemanfaatan kapasitas setiap anak buahnya pada
saat yang tepat.
note : dari berbagai sumber
Kepemimpinan ( Sebuah Konsep Teori )
Konsep Kepemimpinan
Moeljono
(2003) menulis tentang ajaran Ki Hajar Dewantara yang merupakan sebuah konsep
guru kemudian ditransformasikan secara luas ke konsep kepemimpinan. Konsepnya
yaitu ing ngarsa sung tuladha, ing madya
mangun karsa, tut wuri handayani.
Pertama,
ing ngarsa sung tuladha.
Ngarsa artinya di depan sedangkan tuladha maknanya contoh. Makna dari
ajaran ini adalah bahwa sebagai pemimpin dimana pun seyogianya memberi contoh
yang baik.
Kedua,
ing madya mangun karsa.
Madya artinya tengah dan mangun artinya membentuk sesuai
keperluan sedangkan karsa artinya kehendak. Sebagai pemimpin jika ingin
berhasil dianjurkan untuk dapat membentuk, memperhatikan, memelihara, dan
menjaga kehendak dan keperluan atasan serta bawahan secara seimbang.
Ketiga,
tut wuri handayani.
Tut wuri artinya dibelakang sedangkan
handayani artinya memberi kekuatan.
Sebagai pemimpin kita harus mampu mengasuh bawahan dengan baik, bukan
memanjakan tetapi justru memberikan arahan dan rasa aman.
Terori Kepemimpinan
1. Teori Sifat
Pada mulanya,
timbul suatu pemikiran bahwa pemimpin itu dilahirkan, pemimpin bukan dibuat.
Pemikiran ini dinamakan pemikiran “hereditary”
(turun-temurun). Pada masa berikutnya, timbul suatu teori baru yang dinamakan “physical characteristic theory”.
Dikemukakan adanya 76 tipe struktur badan yang berhubungan dengan perbedaan
temperamen dan kepribadian. (Sutarto, 1989)
The trait
approach to leadership is the evaluation and selection of leaders on the basis
of their physical, mental, social, and psychological characteristics. (Mondy,
1991)
Teori sifat kepemimpinan adalah
evaluasi dan seleksi dari pemimpin berdasarkan ciri - ciri fisik, mental,
sosial, dan karakter psikologi mereka.
Teori
sifat kepemimpinan membedakan para pemimpin dari mereka yang bukan pemimpin
dengan cara berfokus pada berbagai sifat dan karakteristik pribadi, meliputi
ciri – ciri intelektual, emosional, fisik, dan ciri – ciri pribadi lainnya.
2. Teori
Perilaku
Teori
perilaku berlandaskan pemikiran bahwa keberhasilan atau kegagalan pemimpin
ditentukan oleh gaya bersikap dan bertindak pemimpin yang bersangkutan
(Sutarto, 1989). Teori perilaku pribadi mengkaji perilaku dan dampaknya atas
prestasi dan kepuasan para pengikut (Robbins, 2008).
a. Penelitian
Universitas Michigan : Orientasi Pekerjaan dan Orientasi Karyawan
Hasil
penelitian menunjukkan ada dua
gaya kepemimpinan yang berbeda, yaitu berorientasi pada pekerjaan (job centered) dan berorientasi pada
karyawan (employee centered).
Pemimpin yang berorientasi pekerjaan,
mempraktekkan penyeliaan ketat sehingga bawahan melaksanakan tugas mereka
dengan menggunakan prosedur yang ditentukan dengan jelas. Jenis pemimpin ini
mengandalkan kepemimpinan mereka atas kekuasaan paksaan, imbalan, dan
legitimasi untuk mempengaruhi perilaku dan prestasi pengikut. Perhatian atas
karyawan dipandang sebagai hal penting, tetapi merupakan barang mewah yang
tidak dapat diberikan pemimpin.
Pemimpin yang berorientasi karyawan,
yakin tentang perlunya pendelegasian pengambilan keputusan dan upaya membantu
karyawan dalam memenuhi kebutuhan mereka dengan menciptakan suatu lingkungan
kerja yang mendorong. Pemimpin yang berorientasi karyawan menaruh perhatian
akan kemajuan pribadi, pertumbuhan, dan prestasi karyawan. Tindakan ini
diasumsikan kondusif untuk menimbulkan dukungan bagi pembentukan dan
pengembangan kelompok.
b. Penelitian
Universitas Negeri Ohio : Pemrakarsaan Struktur dan Pertimbangan
Penelitian
yang diketuai Fleishman ini menghasilkan teori dua faktor tentang
kepemimpinan. Penelitian tersebut memisahkan dua faktor kepemimpinan, yang
diacu sebagai pemrakarsa struktur dan pertimbangan.
Pemrakarsa struktur merupakan
perilaku dimana pemimpin yang mengorganisasi dan menetapkan hubungan dalam
kelompok tersebut, cenderung membentuk pola dan saluran komunikasi yang
ditetapkan dengan baik, dan menunjukkan cara – cara penyelesaian pekerjaan.
Sedangkan pertimbangan menyangkut perilaku yang menunjukkan persahabatan,
kepercayaan timbal-balik, respek, kehangatan, dan hubungan antara pemimpin dan
pengikut.
Menurut teori ini, variabel yang
mempengaruhi hubungan perilaku kepemimpinan dan keefektifan organisasi antara
lain pengalaman karyawan, kewenangan, pengetahuan tentang pekerjaan, harapan
atas perilaku pemimpin, pengaruh pemimpin ke atas tingkat otonomi, dan desakan
waktu (Gibson, 1985).
Teori ini telah dikritik karena
kesederhanaannya (misalnya hanya dua dimensi kepemimpinan), kurang kemampuan
menyamaratakan, dan mengandalkan jawaban kuesioner untuk mengukur keefektifan
kepemimpinan (Robbins, 2008).
Pendekatan keprilakuan pribadi ini
telah dipelajari dalam lingkungan keorganisasian yang berbeda. Namun, kedua
teori dalam pendekatan keprilakuan pribadi ini belum menunjukkan kaitan antara
kepemimpinan dan indikator prestasi yang penting, seperti produksi, efisiensi,
dan kepuasan secara meyakinkan (Ivancevich, 2007).
3.
Teori
Kontingensi
Tiap – tiap organisasi memiliki
ciri khusus, tiap organisasi adalah unik. Bahkan organisasi yang sejenis pun
akan menghadapi masalah yang berbeda, lingkungan yang berbeda, pejabat dengan
watak serta perilaku yang berbeda. Oleh karena itu, tidak mungkin dipimpin
dengan perilaku tunggal untuk segala situasi. Situasi yang berbeda harus dihadapi dengan perilaku kepemimpinan
yang berbeda pula. Oleh karena itu, muncul pendekatan yang disebut “contingency approach”, dinamakan pula “situational approach” (pendekatan
situasional) (Sutarto, 1989).
Oleh Fred Luthans, teori
kontingensi dirumuskan sebagai hubungan “jika . . ., maka . . .”. “Jika” merupakan variabel
lingkungan dan “maka” merupakan variabel manajemen.
a.
Model
kepemimpinan kontingensi dari Fiedler
Fiedler menyatakan
bahwa tidak ada seseorang yang dapat menjadi pemimpin yang berhasil dengan
hanya menerapkan satu macam gaya untuk segala situasi. Pemimpin itu akan
berhasil menjalankan kepemimpinannya apabila menerapkan gaya kepemimpinan yang
berbeda untuk menghadapi situasi yang berbeda (Sutarto, 1989). Fiedler tidak
optimis bahwa pemimpin bisa dilatih dengan sukses untuk mengubah gaya
kepemimpinan mereka, sehingga menurut dia, mengubah situasi merupakan
alternatif yang lebih baik (Ivancevich, 2007).
b. Model
kepemimpinan “path-goal” (Evans dan
House)
Pendekatan “path-goal” berdasarkan pada model
pengharapan yang menyatakan bahwa motivasi individu berdasarkan pada
pengharapannya atas imbalan yang menarik. Pendekatan ini menitikberatkan pada
pemimpin sebagai sumber imbalan. Pendekatan ini mencoba untuk meramalkan
bagaimana perbedaan tipe imbalan dan perbedaan gaya kepemimpinan mempengaruhi
motivasi, prestasi, dan kepuasan bawahan. Oleh Stoner, pendekatan “path-goal” digambarkan sebagai pemimpin
menjelaskan jalan untuk mencapai tujuan (imbalan) (Sutarto, 1989).
c. Model
kepemimpinan situasional (Paul Hersey dan Kenneth H.Blanchard)
Hersey and
Blanchard’s theory is based on the notion that the most effective leadership
style varies according to the level of readiness of the followers and the
demands of the situation (Mondy, 1991).
Teori Hersey dan Blanchard didasarkan pada gagasan
bahwa kepemimpinan yang efektif
bervariasi menurut tingkat kesiapan bawahan dan tuntutan situasi.
Berdasarkan
pendekatan situasional, tiada satu jalan terbaik untuk mempengaruhi orang atau
tiada satu jalan terbaik untuk memimpin. Pendekatan situasi didasarkan atas
hubungan antara perilaku tugas, perilaku hubungan, serta tingkat kematangan
bawahan. (Sutarto, 1989)
Dari berbagai
teori diatas, Carl R. Anderson (1988) di dalam buku Management : Skills, Functions, and Organizations Performance
menyebutkan bahwa teori situasional merupakan teori yang lebih baik.
“The situational
approach is both the most complicated and most useful approach to understanding
what leaders do. This is consistent with the complexity of most leadership
positions. All the theories emphasize that no one “best” approach to leadership
exists, it all depends on the employees managed, the job, and the leader. Each
of the theories adds insights to what elements of the situation leaders should
consider. Regardless, situational theory is widely accepted by both
practitioners and researches. It “makes sense” that leaders must change how
they behave from situation to situation.”
Pendekatan situasional adalah
pendekatan yang paling rumit dan juga paling berguna untuk mengerti apa yang
seharusnya dilakukan pemimpin. Hal ini sesuai dengan kompleksitas dari posisi
pemimpin tersebut. Semua teori ini menegaskan bahwa tidak ada satupun
pendekatan atau teori kepemimpinan yang sesuai, semuanya tergantung pada
pengaturan bawahan, pekerjaan, dan pemimpin. Masing – masing teori memberikan
wawasan tentang elemen apa dalam sebuah situasi yang harus dipertimbangkan oleh
pemimpin. Bagaimanapun, teori situasional lebih banyak diterima. Hal ini
menunjukkan bahwa pemimpin harus mengubah perilakunya dari situasi yang satu ke
situasi yang lain.
Lets Go....!!!!
Kepemimpinan, Apa Itu ?
Berbicara
kepemimpinan, maka kata ini berasal dari kata pemimpin, yang berarti seseorang
yang berada di depan dan memimpin suatu perkumpulan atau wadah. Pemimpin adalah
manusianya atau orang yang memimpin, sedangkan kepemimpinan adalah sifat atau
gaya perilaku yang melekat pada seseorang yang memimpin. Perkataan
leader atau pemimpin itu sendiri
mempunyai banyak definisi, sebanyak pribadi yang meminati masalah pemimpin
tersebut.
Beberapa
definisi dapat disebutkan dibawah ini:
1. Pemimpin
adalah seorang pribadi yang memiliki kecakapan dan kelebihan, khususnya
kecakapan kelebihan disatu bidang, sehingga dia mampu mempengaruhi orang-orang
lain untuk bersama-sama melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi mencapai
satu atau beberapa tujuan (Kartono,
2004).
2. Henry
Pratt Fairchild (1960)
menyatakan
bahwa pemimpin dalam pengertian luas ialah seorang dengan jalan memprakarsai
tingkah laku sosial dengan mengatur, mengarahkan, mengorganisir atau mengontrol
usaha/upaya orang lain, atau melalui prestige,
kekuasaan atau posisi. Dalam pengertian terbatas, pemimpin ialah seorang yang
membimbing memimpin dengan bantuan kualitas-kualitas persuasifnya, dan
akseptansi/penerimaan secara sukarela oleh para pengikutnya.
3. John
Gage Allee (1969)
menyatakan:
“leader...a guide; a conductor; a
commander” (pemimpin itu ialah pemandu, penunjuk, penuntun, komandan)
4. Menurut Peter Drucker, pemimpin adalah individu yang “make things happen”
Dari
beberapa definisi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pemimpin adalah pribadi
yang memiliki kecakapan khusus, dengan atau tanpa pengakuan resmi dapat
mempengaruhi kelompok yang dipimpinnya, untuk melakukan usaha bersama mengarah
pada pencapaian sasaran-sasaran tertentu.
Pada awalnya banyak orang
berpendirian bahwa kepemimpinan itu tidak dapat dipelajari. Sebab kepemimpinan
adalah suatu bakat yang diperoleh orang sebagai kemampuan yang istimewa yang
dibawa sejak lahir. Akan tetapi dalam perkembangan
zaman, kepemimpinan itu secara ilmiah kemudian berkembang, bersamaan dengan
pertumbuhan scientific management (manajemen
ilmiah), yang dipelopori oleh ilmuwan Frederick W. Taylor pada awal abad ke-20
dan dikemudian hari berkembang menjadi satu ilmu kepemimpinan.
Beberapa
definisi mengenai kepemimpinan adalah sebagai berikut:
1. Warren
Benis mengenai kepemimpinan berkata: “...the
process by which an agent induces a subordinate to behave in a desired manner”
(proses dengan mana seorang agen menyebabkan bawahan bertingkah laku menurut
satu cara tertentu).
2. Ordway
Tead dalam bukunya “The Art of Leadership”
menyatakan bahwa kepemimpinan adalah kegiatan mempengaruhi orang-orang agar
mereka mau bekerja sama untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
3. George
R. Terry dalam bukunya “Principle of
Management” berkata kepemimpinan adalah kegiatan mempengaruhi orang-orang
agar mereka suka berusaha mencapai tujuan-tujuan kelompok.
4. Howard
H. Hoyt dalam bukunya “Aspect of Modern
Public Administration” menyatakan bahwa kepemimpinan adalah seni untuk
mempengaruhi tingkah laku manusia, kemampuan untuk membimbing orang.
Dari berbagai definisi di atas dapat
diambil kesimpulan, bahwa kepemimpinan adalah suatu
proses atau kegiatan untuk mempengaruhi atau mengarahkan tingkah laku orang
lain atau bawahan guna mencapai tujuan organisasi atau kelompok.
Kamis, 19 April 2012
Membentuk Leadership,... Leader Yang Sip
Membentuk “isi”tetap bisa dilakukan dengan mempelajari apa saja yang dilakukan pemimpin-pemimpin besar ataupun pemimpin-pemimpin gagal. Belajar tidak selalu dari orang-orang yang berhasil sebab kegagalan juga bisa memberikan penjelasan yang berharga. Para birokrat juga bisa memperbaiki cara kerja atasan- atasan dan diri masingmasing. Hampir dapat dikatakan buruknya leadership style seorang presiden juga ditentukan oleh buruknya birokrasi di Kantor Sekretariat Kepresidenan.
Cara yang sama yang dilakukan berulang-ulang hanya mencerminkan tidak ada pembaharuan di kalangan birokrasi kepresidenan,dan itu bisa berarti tidak ada transformasi. Pemimpin-pemimpin yang memimpin dengan pendekatan birokratis––tak peduli betapa hebat asal sekolahnya–– juga perlu memperbaiki acuan yang menjadi pedoman protokoler dan cara kerja. Bureaucratic leadership yang lebih dibentuk “by the book” atau “automated by rules” perlu diremajakan setiap periode tertentu.
Tanpa peremajaan, leadership style akan terkesan kuno,lamban,“tua”, dan tidak bersahabat. Sementara itu, para manajer juga perlu memperbaiki leadership style-nya begitu ia dipersiapkan ke posisi yang lebih tinggi. Setiap manajer atau officer, atau komandan sekalipun,umumnya dibentuk dari keseharian di mana ia berada. Setiap tahun ada ratusan polisi yang diwisuda dari Akademi Kepolisian, tapi hanya sedikit di antara mereka yang akan keluar atau pensiun dengan tanda bintang di pundaknya.
Demikian pula setiap tahun ada ribuan sarjana baru yang memulai bekerja,namun hanya sedikit yang akan pernah duduk di bangku CEO.Jelaslah para jenderal dan para sarjana dibentuk bukan hanya oleh pendidikan atau sekolah mereka, melainkan juga oleh siapa yang menjadi rekan kerja, dan atasan mereka masing-masing beserta medan persoalan yang dihadapi. Seorang polisi yang mengalami penempatan pertama di bawah komandan yang jujur dapat diharapkan berkembang menjadi komandan yang berintegritas.
Sebaliknya,mereka yang dibina oleh atasan yang korup dan melakukan tindakan tak terpuji bisa terbentuk menjadi serupa,kecuali bila ia memberontak. Mereka semua dibentuk oleh siapa yang menjadi pengalaman pertama dalam hidup atau karier mereka. Yang jelas, leadership style akan menjadi problematik bila hanya mengandalkan karisma karena charismatic leadership akan lebih berpusat pada diri sendiri.
Daniel Goleman, penulis buku Primal Leadership, lebih memilih visionary leadership, yaitu pemimpin yang mampu melihat jauh ke depan. Namun, itu tidak cukup. Ia mengatakan, “Visionary leaders akan membentuk ke mana kelompoknya pergi.” Meskipun tidak menjelaskan cara-cara teknisnya, ia menciptakan iklim yang kondusif untuk melakukan inovasi, eksperimen, bahkan mengambil risiko.
Cara yang ditempuh visionary leaders ini jauh lebih baik ketimbang cara-cara yang tengah dibangun oleh para pemimpin yang bergaya transaksional yang cenderung politis. Transactional style leader cenderung membentuk “kepatuhan” dengan cara “menyuap” atau “membayar” mereka. Anda sudah sering mendengar bukan bahwa hal ini banyak terjadi di panggung politik dan kekuasaan. Kepemimpinan transaksional merusak kultur bangsa, menciptakan ketidakbahagiaan dan hanya efektif untuk jangka pendek. Maka pelajarilah effective leadership yang tepat agar Anda menjadi pemimpin sejati dan organisasi Anda maju pesat.●
Cara yang sama yang dilakukan berulang-ulang hanya mencerminkan tidak ada pembaharuan di kalangan birokrasi kepresidenan,dan itu bisa berarti tidak ada transformasi. Pemimpin-pemimpin yang memimpin dengan pendekatan birokratis––tak peduli betapa hebat asal sekolahnya–– juga perlu memperbaiki acuan yang menjadi pedoman protokoler dan cara kerja. Bureaucratic leadership yang lebih dibentuk “by the book” atau “automated by rules” perlu diremajakan setiap periode tertentu.
Tanpa peremajaan, leadership style akan terkesan kuno,lamban,“tua”, dan tidak bersahabat. Sementara itu, para manajer juga perlu memperbaiki leadership style-nya begitu ia dipersiapkan ke posisi yang lebih tinggi. Setiap manajer atau officer, atau komandan sekalipun,umumnya dibentuk dari keseharian di mana ia berada. Setiap tahun ada ratusan polisi yang diwisuda dari Akademi Kepolisian, tapi hanya sedikit di antara mereka yang akan keluar atau pensiun dengan tanda bintang di pundaknya.
Demikian pula setiap tahun ada ribuan sarjana baru yang memulai bekerja,namun hanya sedikit yang akan pernah duduk di bangku CEO.Jelaslah para jenderal dan para sarjana dibentuk bukan hanya oleh pendidikan atau sekolah mereka, melainkan juga oleh siapa yang menjadi rekan kerja, dan atasan mereka masing-masing beserta medan persoalan yang dihadapi. Seorang polisi yang mengalami penempatan pertama di bawah komandan yang jujur dapat diharapkan berkembang menjadi komandan yang berintegritas.
Sebaliknya,mereka yang dibina oleh atasan yang korup dan melakukan tindakan tak terpuji bisa terbentuk menjadi serupa,kecuali bila ia memberontak. Mereka semua dibentuk oleh siapa yang menjadi pengalaman pertama dalam hidup atau karier mereka. Yang jelas, leadership style akan menjadi problematik bila hanya mengandalkan karisma karena charismatic leadership akan lebih berpusat pada diri sendiri.
Daniel Goleman, penulis buku Primal Leadership, lebih memilih visionary leadership, yaitu pemimpin yang mampu melihat jauh ke depan. Namun, itu tidak cukup. Ia mengatakan, “Visionary leaders akan membentuk ke mana kelompoknya pergi.” Meskipun tidak menjelaskan cara-cara teknisnya, ia menciptakan iklim yang kondusif untuk melakukan inovasi, eksperimen, bahkan mengambil risiko.
Cara yang ditempuh visionary leaders ini jauh lebih baik ketimbang cara-cara yang tengah dibangun oleh para pemimpin yang bergaya transaksional yang cenderung politis. Transactional style leader cenderung membentuk “kepatuhan” dengan cara “menyuap” atau “membayar” mereka. Anda sudah sering mendengar bukan bahwa hal ini banyak terjadi di panggung politik dan kekuasaan. Kepemimpinan transaksional merusak kultur bangsa, menciptakan ketidakbahagiaan dan hanya efektif untuk jangka pendek. Maka pelajarilah effective leadership yang tepat agar Anda menjadi pemimpin sejati dan organisasi Anda maju pesat.●
Sumber : Tulisan Leadership style Oleh Rhenald Kasali di Harian Seputar Indonesia, Apr.19.12
Langganan:
Postingan (Atom)